Saturday, November 29, 2014

Menjelajah Hutan Klasow di Kabupaten Sorong

Dua minggu lalu, saya berkunjung ke kota Sorong. Tujuan utama adalah melihat hutan hujan tropis di Lembah Klasow dari jarak dekat. Dengan ditemani beberapa pemandu lokal, kami menuju kampung Malaumkarta. Kendaraan yang kami tumpangi adalah Toyota Hilux 4WD Seri G. Jalan raya di hari Minggu pagi di kota Sorong tidak terlalu ramai. Pak Sopir yang mengantar kami meningkatkan kecepatan mobilnya.
Kampung Malaumkarta
Terketak di sebelah timur Sorong, Kampung Malaumkarta bisa dicapai hanya dalam waktu kurang lebih satu jam. Kampung ini berada di pesisir pantai yang berpasir putih. Di sana kami menemui Kostan, seorang pemuda setempat yang aktif di berbagai lembaga swadaya masyarakat yang peduli dengan lingkungan hidup. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Lembah Klasow, saya menyempatkan diri untuk memotret pemandangan pantai di kampung itu. Pantai ini cocok untuk wisatawan yang suka berenang, berjemur di bawah terik matahari atau snorkeling untuk melihat warna-warni terumbu karang dan ikan-ikan laut.
Setelah mengambil foto pemandangan pantai, kami pun melanjutkan perjalanan ke Lembah Klasow ditemani oleh bung Kostan Magablo. Letak Kampung Malaumkarta dengan Lembah Klasow hanya dipisahkan oleh sebuah urat gunung yang lumayan tinggi. Oleh karena itu waktu yang kami perlukan untuk mencapai lembah tinggal 10 menit.
Hutan Lembah Klasow
Udara dingin dan sejuk mulai terasa saat kita berjalan memasuki hutan. Kicauan berbagai jenis burung terdengar di sela-sela dahan pohon yang rimbun. Sesekali saya mendengar suara burung kakaktua yang nyaring di angkasa.

Menonton Cendrawasih
Hutan di Lembah Klasow merupakan habitat alami berbagai jenis satwa termasuk Lao-lao atau sejenis kanguru berukuran kecil, burung Cendrawasih, rusa dan berbagai jenis kupu-kupu. Ditemani oleh Luxen, Niko, Kostan dan beberapa pemuda kampung, kami menuju tepian sungai Klasow. Sesampainya di sana, kami di terps hujan lebat. Oleh karena itu, kami berteduh selama beberapa jam di rumah Misael. Ketika hujan telah berhenti, saya memutuskan untuk segera menuju tepian sungai Klasow untuk melihat burung Cendrawasih. Kamera Nikon Coolpix P600 yang saya bawa ternyata cukup kuat untuk memotret burung Cendrawasih yang bertengger di cabang pohon di seberang sungai.

Jika Anda ingin berwisata ke hutan Lembah Klasow di Kampung Malagufuk, Kabupaten Sorong dan ingin saya menemani dan memandu Anda, silahkan menghubungi saya (Charles Roring) lewat hp 081332245180 atau lewat email: peace4wp@gmail.com.


Sunday, October 5, 2014

Berwisata ke Hutan Lembah Klasow di Sorong

Kota Sorong di Provinsi Papua Barat adalah pintu masuk utama bagi para wisatawan yang ingin pergi ke Kepulauan Raja Ampat - sebuah destinasi wisata bahari yang terpopuler di dunia. Kota Sorong terletak di daratan utama Papua. Sayang sekali informasi yang tersedia mengenai atraksi wisata di Kabupaten Sorong sangatlah sedikit. Daerah pinggiran kota Sorong didominasi oleh pegunungan, dataran rendah serta kawasan rawa-rawa.

Lembah Klasow
Di sebelah timur kota Sorong ada sebuah lembah yang luas sekali. Namanya Lembah Klasow. Tanahnya yang datar dan dialiri sungai-sungai kecil dan besar serta ditutupi oleh hutan hujan tropis merupakan daya tarik wisata bagi para pelancong dari dalam dan luar negeri. Berbagai jenis pohon seperti beringin, matoa dan kayu besi, rotan, pandanus dan tanaman palma tumbuh di hutan itu. Jika Anda berwisata di dalam hutan menyusuri jalan setapak dan sungai-sungai kecil, Anda akan melihat burung-burung berkicau di sela-sela dahan. Ada juga kupu-kupu dan serangga kecil yang mengisap madu dari bunga-bunga liar yang tumbuh di sana.

Pengamatan Burung dan Satwa Liar
Bawalah teropong (kijker) jika Anda ingin melihat burung-burung Papua. Beberapa di antaranya yang mudah dijumpai adalah kakaktua putih (sulphur crested cockatoo); kakaktua raja (goliath cockatoo), taun-taun (blyth's hornbill), dan kumkum (pinon imperial pigeon). Untuk pemotretan burung, gunakan kamera D-SLR dengan lensa telefoto minimal 600 mm atau kamera bridge tipe Nikon Coolpix P900 yang memiliki kemampuan zoom yang besar sekali.


Kuskus biasanya keluar dari persembunyiannya untuk mencari makan dan kawin di malam hari. Begitu pula dengan Lao-lao (sejenis kanguru tanah). Bawalah senter dan kamera yang dilengkapi blitz untuk melakukan pemotretan di malam hari.

Di mana Lembah Klasow berada?
Lihatlah peta berikut ini. Lembah Klasow terletak di sebelah timur kota Sorong dan dapat dicapai dengan kendaraan bermotor selama kurang lebih 1,5 jam.

Bagaimana cara ke sana?
Terbanglah dari kota Anda ke kota Sorong. Beberapa maskapai penerbangan yang ke Sorong antara lain Garuda Indonesia, Sriwijaya, Lion/ Wings Air dan Express Air.

Apa yang perlu dipersiapkan?
Belilah bahan makanan dan minuman di pasar atau supermarket yang secukupnya untuk Anda dan para pemandu lokal (kurang lebih 2 - 4 orang), tergantung jumlah peserta tur.
Bawalah baterai ekstra untuk kamera jika Anda ingin berada di hutan selama beberapa hari.
Belilah sebotol cairan anti serangga untuk diusapkan ke sekujur tubuh Anda saat berada di hutan termasuk di permukaan kulit yang tertutup pakaian.
Di hutan ada kamp yang sudah disiapkan untuk wisatawan. Kalau Anda ingin tidur lebih nyaman bawalah sleeping bag.

Ekowisata versus Logging
Inisiatif ekowisata ke hutan hujan tropis di Lembah Klasow masih berada dalam tahap awal. Oleh karena, kami mohon agar wisatawan bisa lebih toleran jika melihat bahwa pemandu wisata lokal dan penduduk setempat kurang memiliki pengalaman dan profesionalitas yang cukup selama melayani Anda. Tujuan utama dari program ekowisata di Lembah Klasow dan sekitar kampung Malagufuk untuk membantu masyarakat setempat mengurangi dan bahkan menghentikan kegiatan penebangan pohon (logging) serta memberikan alternatif pendapatan lewat pariwisata.
Untuk informasih lebih lanjut mengenai biaya perjalanan, silahkan menghubungi saya (Charles Roring) lewat e-mail: peace4wp@gmail.com atau ponsel 081332245180.

Wednesday, May 14, 2014

Menonton Burung Cendrawasih di Manokwari

Burung Cendrawasih atau yang disebut pula Burung Surga merupakan daya tarik wisata yang populer di Papua Barat. Burung ini memiliki bulu yang indah serta perilaku hidup yang unik. Banyak wisatawan dari berbagai penjuru dunia datang ke Manokwari - ibu kota Provinsi Papua Barat untuk mengamati burung Cendrawasih yang mulai mengalami kepunahan. Burung-burung lain seperti Taun-taun (rangkong), kakaktua putih, kakaktua raja, elang serta nuri, juga hidup di hutan hujan tropis yang ada di Gunung Sayori. Salah satu lokasi yang menjadi tempat menonton burung surga tersebut adalah di Kampung Warmarway yang letaknya kira-kira satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor dari kota Manokwari.
Burung Cendrawasih jantan biasanya mulai aktif berdansa untuk merayu burung betina di pagi hari kira-kira jam 6. Ketika burung-burung betina datang, mereka akan berdansa, bercumbu dan akhirnya kawin. Wisatawan yang ingin melihat burung-burung surga itu perlu membawa salah satu dari beberapa peralatan yang saya rekomendasikan berikut ini:
  • Teropong (binoculars) 
  • Kamera digital yang memiliki kemampuan super zoom. Tipe kamera murah yang bisa mengambil gambar dalam jarak jauh ada bermacam-macam. Beberapa di antaranya: Nikon Coolpix P900; Canon Powershot SX60 HS, atau Sony Cybershot DSC-H400 dan lain-lain
Untuk melihat burung surga berdansa, wisatawan perlu melakukan perjalanan sebagai berikut:
  1. Berangkat ke kota Manokwari - ibu kota Provinsi Papua Barat. Ada banyak tempat penginapan di kota ini salah satu di antaranya adalah: Penginapan Kagum yang harganya Rp. 150.000/kamar/malam
  2. Pergi ke terminal Pasar Wosi dan mencari angkutan umum yang menuju Kampung Warmarway. Perjalanan dengan kendaraan umum minibus akan memakan waktu selama kurang lebih 1 jam.
  3. Bertemu dengan pemandu lokal yang bernama Yunus Sayori (no hp: 081343316087).
  4. Bpk. Yunus akan memandu Anda menaiki lereng gunung selama kurang lebih 1 jam untuk mencapai tempat di mana burung Cendrawasih biasanya berkumpul untuk berdansa. 
Burung-burung lain yang sering dijumpai di hutan pinggir pantai dan pegunungan rendah antara lain taun-taun/ rangkong; kakaktua putih; kakak tua raja; kingfishers dan pinon imperial pigeon, dll.
Selain kegiatan menonton burung Cendrawasih, wisatawan bisa mendaki pegunungan Arfak untuk melihat berbagai jenis tumbuhan dan satwa yang hidup di dalamnya. Di Malam hari, Bpk. Yunus Sayori bisa meniru suara kuskus betina untuk menarik datangnya kuskus jantan. Siapkan kamera Anda untuk memotret binatang nocturnal (yang biasanya aktif di malam hari) ini. Ada pula jamur yang bercahaya. Jika ingin memotretnya, gunakan kamera D-SLR yang telah disetel untuk kondisi pemotretan macro dan malam. Perjalanan di dalam hutan Pegunungan Arfak ini akan menunjukkan kepada Anda betapa tingginya keanekaragaman hayati yang hidup di sana.
Berikut ini adalah harga-harga perjalanan:
  • Kendaraan umum dari Terminal Wosi ke Kampung Warmarway Rp. 30.000/ penumpang
  • Pemandu lokal (Bapak Yunus Sayori) Rp. 200.000/hari
  • Porter Rp. 150.000/ hari
  • Kontribusi untuk kas desa Rp. 50.000/hari
  • Menginap di tenda di hutan Rp. 50.000/ malam
  • Jika Anda menginap di rumah wisata yang terletak di pinggir pantai maka biayanya menjadi Rp. 100.000/orang/hari.
Anda bisa juga menikmati kegiatan snorkeling dan memancing di pantai. Semoga pengalaman melakukan kegiatan eko-wisata di Manokwari - Papua Barat semakin memperkaya kehidupan serta apresiasi Anda terhadap keindahan alam nusantara yang luas ini. artikel singkat ini ditulis oleh Charles Roring 

Monday, February 17, 2014

Kultura - Menjual Produk Kerajinan Tangan Filipina ke Seluruh Dunia

Saya kagum dengan toko ini. Produk yang dijual oleh Toko Kultura di SM Mall of Asia yang terletak di kota Manila, Filipina tersebut sebagian besarnya adalah barang kerajinan tangan. Secara langsung, toko tersebut telah memberikan kontribusi finansial yang signifikan kepada para pengrajin atau seniman yang membuat produk-produk itu.
Banyak wisatawan yang mengunjungi Toko Kultura untuk membeli suvenir yang akan mereka bagikan kepada para sahabat dan keluarga mereka di rumah. Saya pun mencoba mencari informasi lebih mendetail tentang Toko Kultura di internet. Sebagai hasilnya, Om Google memberikan alamat kulturafilipino.com sebagai situs resmi toko itu. Ternyata Toko Kultura ini, selain di SM Mall of Asia di Manila, bisa ditemukan di sejumlah kota antara lain di Pusat Kota Mandaluyong, Ayala Center, Makati City, Mabolo, Cebu City, Tagaytay City dan beberapa tempat lainnya di Filipina.
Sebagai seorang pemandu turis dengan senang hati saya akan membawa wisatawan ke toko seperti ini karena ada dampak positif yang bisa dirasakan oleh para pengrajin jika kita membeli produk mereka. Oleh Charles Roring
Alamat kontak: leororing@gmail.com

Thursday, February 13, 2014

Jeepney Kendaraan Umum yang Populer di Filipina

Pada masa Perang Dunia II, Amerika Serikat memproduksi kendaraan militer jenis Jeep dalam jumlah yang banyak. Setelah perang selesai, militer Amerika menghadapi kelebihan stok kendaraan tersebut. Ketika meninggalkan Filipina, mereka menjual atau memberikan mobil Jeep tersebut kepada masyarakat. Karena pada masa itu, kebutuhan akan alat transportasi umum yang murah merupakan hal yang mendesak maka orang-orang Filipina memodifikasi kendaraan tersebut dengan memanjangkannya dan menaruh bangku berhadap-hadapan di bagian belakang. Untuk menarik minat warga naik transportasi umum tersebut, kendaraan ini didandani dengan berbagai hiasan dan lukisan yang berwarna-warni. Mobil eks Perang Dunia II yang sudah dimodifikasi ini dinamai Jeepney. Fungsinya yang dulu sebagai pengangkut tentara sekarang membawa penumpang. Jeepney adalah busnya orang Filipina.
Kebanyakan Jeepney sudah berusia puluhan tahun. Tidaklah mengherankan jika mesinnya menjadi kurang efisien dan banyak mengeluarkan asap. Di samping itu pula, ada banyak sopir jeepney yang kurang disiplin dalam menurunkan dan menaikan penumpang sehingga terjadi kemacetan di jalanan. Ketika saya berada di Manila pada awal tahun 2014 ini, saya masih melihat banyak sekali Jeepney di jalan-jalan kota tersebut. Transportasi umum memegang peranan penting dalam mengantar warga kota yang hendak pergi ke sekolah, kantor atau berbelanja. Jeepney dengan kapasistas muat yang besar ikut berfungsi dalam mengurangi kemacetan.
Dalam sebuah perjalanan mengelilingi kota Manila dan juga menuju situs penyelaman di Inalao - Batangas, saya melihat stasiun pompa bensin yang dimiliki perusahaan asing. Tentu saya hati saya agak sedih karena perekonomian negara ini tentunya tidak boleh bergantung pada bahan bakar dari luar. Hal ini terasa pula di Indonesia yang dulunya adalah negara pengekspor minyak tetapi sekarang telah menjadi pengimpor minyak. Negara-negara berkembang seperti Indonesia dan Filipina seharusnya mengembangkan bahan bakar dan energi terbarukan mereka secara lebih serius agar transportasi dan kegiatan perekonomian bisa berkembang dengan baik dan memberi kemakmuran bagi rakyat.
Pemerintah Filipina sadar bahwa Jeepney, bersama-sama dengan taksi, LRT (Light Rail Transit), dan Manila MRT (Metro Rail Transit) merupakan transportasi publik yang berperan utama dalam mengangkut orang dan barang di kota Manila.  Nampak jelas bahwa pemerintah Filipina sangat serius dalam mengembangkan transportasi umum mereka. Semoga keberadaan Jeepney yang identik dengan Filipina tersebut tetap lestari di negeri yang menjadi tetangga Indonesia tersebut. oleh Charles Roring.

Wednesday, February 12, 2014

Patung Pekerja Filipina di Mall of Asia

Di pinggir pantai, tidak jauh dari SM Mall of Asia, saya melihat instalasi patung perunggu yang menunjukkan beberapa orang Filipina dengan profesi yang berbeda-beda. Pagi itu belum banyak orang yang memadati kawasan pantai tersebut. Restoran yang berjejer di sana belum ada yang buka. Oleh karena itu, saya lebih leluasa dalam memotret patung tersebut.
Di bagian tengah ada sosok Manny Pacquiao - seorang Filipina yang terkenal sebagai petinju hebat di seluruh dunia. Ada juga petani, perawat, guru dan pekerja konstruksi. Menurut info yang saya peroleh dari hasil pencarian paman Google, ternyata patung itu dibuat oleh seniman Fred Baldemor. Instalasi seni ini diberi judul Hardworking Filipinos atau Para Pekerja Keras Filipina. Ternyata oleh sang seniman, patung ini dibuat untuk menghormati semua pekerja keras Filipina baik laki-laki maupun perempuan di seluruh dunia.
Memang orang Filipina ada di berbagai penjuru dunia. Mereka banyak yang merantau untuk mendapat pekerjaan dengan gaji yang lebih baik dari pada yang mereka bisa peroleh di negara sendiri. Tentu gaji mereka dihargai tinggi karena rata-rata orang Filipina bisa berbahasa Inggris. Mereka yang bekerja di luar negeri bahkan memiliki ketrampilan khusus. Tidak heran jika pada umumnya tenaga kerja Filipina lebih dihargai dari pada tenaga kerja Indonesia untuk profesi yang sama.

Kunjungan ke Eagle Point Resort di Anilao Filipina

Kepulauan Filipina memiliki banyak sekali situs penyelaman. Salah satunya terletak di kawasan Anilao Mabini - Provinsi Batangas. Lokasinya hanya beberapa jam perjalanan dari ibukota Manila. Saya dan kawan-kawan dari Papua Barat berkunjung ke sana di awal tahun 2014. Kami menginap di Eagle Point Resort yang menurut pemandu selam setempat adalah yang terbesar di wilayah itu. Lokasinya yang tersembunyi dari jalan utama membuat resort ini cocok bagi wisatawan yang ingin mencari ketenangan atau pengantin muda yang ingin berbulan madu.

Karena divemaster yang kami tunggu-tunggu datangnya terlambat maka Saya, Salo dan Saka baru bisa melaut sekitar jam 15.00. Sebenarnya kami agak jengkel dengan pelayanan staf dive center yang kurang maksimal. Suhu air begitu dingin ketika kami turun ke dalam air. Secara umum kondisi terumbu karang di wilayah itu bagus dengan beberapa bagian ada yang patah. Saya berkesempatan melihat jackfish dalam kerumunan yang besar sekali. Peralatan selam yang kami sewa dari resort tersebut sudah tua sehingga kondisinya tidak terlalu bagus. Hal ini menyebabkan pengalaman menyelam di perairan Anilao menjadi kurang maksimal.
Kira-kira satu jam berada pada kedalaman hingga 20 meter, kami pun kembali ke perahu. Angin yang membuat kami semakin kedinginan. Perahu melaju menuju Eagle Point, lokasi penyelaman ke-2. Karena hari mulai gelap, kami batalkan. Kami pun kembali ke resort untuk beristirahat sambil menunggu tibanya waktu makan malam. Staf di bagian restoran cukup ramah dan makanan yang mereka hidangkan lezat sekali.
Saya mencoba mengambil gambar menggunakan kamera hp Nokia yang saya bawa. Kualitasnya tentu tidak sebagus jika pengambilan dilakukan menggunakan kamera D-SLR. Satu hal yang membuat saya kaget adalah adanya burung kakaktua jambul kuning (Sulphur Crested Cockatoo) yang hidup di dalam kandang tidak jauh dari pintu luar lobby resort tersebut. Sependek pengetahuan saya, burung itu hidup di hutan hujan tropis Papua. Mengapa bisa sampai di Filipina ya? Sungguh malang burung itu!
Bagi para pelancong yang ingin menyelam di Anilao, saya sarankan pergi ke sana pada musim kemarau untuk memastikan suhu air cukup hangat buat tubuh Anda. Mungkin sekitar April, Mei hingga Juli.
Keesokan paginya kami berangkat kembali ke Manila. Perjalanan kami kembali ke kota itu mengalami keterlambatan selama kurang lebih 2 jam karena kipas radiator dari mobil yang akan kami tumpangi patah. Kami harus menunggu kendaraan pengganti. Selama menunggu kami memutar lagu-lagu Papua yang terasa lebih merdu di telinga selama berada di negeri orang. Akhirnya kami tiba lagi di Manila di sore hari. oleh Charles Roring
Baca juga:
Mall of Asia - Surga Belanja dan Rekreasi Kaum Urban di Manila

Tuesday, February 11, 2014

Mall of Asia - Surga Belanja dan Rekreasi Kaum Urban Manila

Selama sepekan jalan-jalan ke Manila, saya berkesempatan untuk mengunjungi Mall of Asia yang kebetulan tidak jauh dari The Heritage hotel tempat saya menginap. Mall ini ramai dikunjungi oleh kaum urban baik tua dan muda. Mall yang besar itu bisa dikatakan sebagai surga berbelanja, hiburan dan tentu saja pusat kuliner bagi para pencinta makanan khas Filipina. Beberapa kali saya berada di sana bersama dengan sejumlah teman dari Papua Barat - Salo, Theo, Saka. Lokasinya yang menghadap teluk menjadikannya sebagai tempat wisata yang populer bagi kaum urban Manila. Dari anak-anak, kaum muda hingga manula, semuanya suka berkunjung ke SM Mall of Asia. 
Di sisi yang dekat dengan laut, terdapat jajaran restoran yang menyediakan berbagai jenis makanan yang sesuai dengan selera orang Filipina. Di hari terakhir sebelum berangkat kembali ke Jakarta dengan The Philipine Airlines, saya dan kawan-kawan dari West Papua berkunjung lagi ke mall itu untuk membeli oleh-oleh. Kultura - salah satu toko suvenir di Mall Asia menjadi tempat yang kami tuju. Di dalam toko itu ada tempat penukaran uang. Nilai tukar saat itu untuk 1 US dollar = 45 Peso. Saya membeli T-shirt, dan kue kering sedangkan teman saya membeli kalung mutiara dan gantungan kunci. Ada banyak sekali suvenir yang ditawarkan oleh toko itu. Namun produk yang laku dibeli wisatawan adalah T-shirt. Kebanyakan wisatawan yang berbelanja di Kultura berasal dari Jepang, Hongkong, Korea dan berbagai negara lain di Eropa maupun Amerika. Sebagai seorang pemandu wisata, terus terang saja saya cukup terkesan dengan toko ini. Saat menulis artikel ini, saya coba mencari lebih banyak informasi di Google, hasil pencarian menunjukkan bahwa toko ini mengkhususkan diri dalam menjual produk handicraft atau barang kerajinan tangan khas Filipina. Alamat websitenya adalah kulturafilipino.com. Saya pun membuka website tersebut dan mencoba melihat isinya. Secara keseluruhan desain maupun produk yang ditawarkan toko itu bagus sekali. Sayang sekali, mereka tidak melayanan penjualan online. 
Kembali ke cerita saya tentang SM Mall of Asia. Mall tersebut dibangun di atas lahan sebesar 42 hektar, dengan luas lantai mencapai 390,193 meter persegi dengan rata-rata pengunjung 200.000 orang per hari. Menurut Wikipedia, pusat perbelanjaan itu dimiliki oleh SM Prime Holdings, sebuah konglomerat Filipina di bidang retail yang telah membuka 45 mall di berbagai kota di Filipina, dan di Cina. Untuk meningkatkan loyalitas pengunjung mall, pihak manajemen mall tersebut gencar mempromosikan kegiatan mereka di Facebook. Tercatat ada sekitar 450 ribu pengguna Facebook yang telah memencet ikon Like buat SM Mall of Asia. 
Nah, jika Anda berkesempatan jalan-jalan ke Manila, jangan lupa berkunjung ke Toko Kultura di Mall of Asia. oleh Charles Roring