Wednesday, November 21, 2012

Gadis Jepang dan Candi Borobudur

Aku dan teman-teman sedang asyik berpotret ria di lantai atas. Suasana di sekeliling kami ramai sekali dengan wisatawan lokal maupun manca negara. Sejenak aku memalingkan pandangan ke arah belakang. 
Seorang gadis Jepang melangkah perlahan mendekati stupa terbesar yang berdiri kokoh di tengah candi. Gadis itu cantik sekali.

Tuesday, November 20, 2012

Suasana Sendangsono yang tenang

Sendangsono adalah tempat ziarah bagi umat Katholik yang terletak di Desa Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo, Yogyakarta. Saya mengunjungi tempat ini waktu masih kuliah. Di tempat tersebut terdapat patung Maria - bunda Yesus yang sangat dihormati oleh umat Katholik dan perhentian-perhentian Jalan Salib yang menjadi bagian penting dalam peribadatan menjelang paskah. Semua bangunan, pelataran ibadah didesain sedemikian rupa hingga mengikuti kontur tanah yang berbukit serta nampak serasi dengan alam pedesaan yang ada di sekitarnya. Arsitek yang merancang lokasi peribadatan di Sendangsono adalah Romo Mangunwijoyo. Karyanya ini berhasil meraih Aga Khan Awards. Pastor yang sangat merakyat tersebut saat ini telah tiada. Namun demikian, beliau tetap dikenang lewat banyak buku yang telah ditulisnya dan bangunan-bangunan yang didesainnya.

Wednesday, November 14, 2012

Cinderamata dari Manokwari


Wisatawan Rusia sedang melihat-lihat ukir-ukiran kayu karya seniman Papua Niko Asaribab di Manokwari. Souvenir ini sangat laku dibeli oleh wisatawan asing dari Eropa, Amerika dan Australia.

Tuesday, November 13, 2012

Menonton Tarian Yospan di Pulau Numfor


Tarian Yospan adalah tarian pergaulan di antara muda-mudi Papua yang saat ini semakin terkenal di Indonesia. Selama beberapa kali perjalanan saya bersama sejumlah wisatawan asing ke Pulau Numfor, kami menyempatkan diri untuk menyaksikan pentas seni tari Yospan di rumah Bapak Simon, Ketua Dewan Adat Papua di daerah itu.

Mengagumi Kumbang Eupholus di Pulau Numfor

Kumbang Eupholus Magnificus yang banyak terdapat di Pulau Numfor, Provinsi Papua memiliki warna biru hitam yang cemerlang bak permata hidup yang sedang berjalan di atas daun. Wisatawan Eropa dan Amerika suka sekali memotretnya karena keindahan bentuk dan warnanya yang unik tersebut. 
Meskipun banyak turis yang datang ke Papua lebih menyukai aktivitas menyelam di pulau-pulau karang, ada sebagian dari mereka yang tertarik pula dengan keindahan hutan hujan tropis. Beberapa kali saya menemani wisatawan Italia, Inggris dan Amerika melakukan perjalanan di dalam hutan hujan tropis Papua termasuk ke Pulau Numfor. Ada dua jenis hutan di Numfor yakni hutan dataran rendah di tanah kering dan hutan bakau yang tumbuh di daerah pasang surut. 

Monday, November 12, 2012

Kupu-kupu sayap burung di Pegunungan Arfak Papua

Kupu-kupu sayap burung Rothschildi yang nampak dalam foto di atas hidup di hutan hujan tropis Pegunungan Arfak, Papua Barat.

Sunday, November 11, 2012

Wisata Alam di Hutan Rawa Papua Barat


Wisata hutan adalah jenis tur yang dilaksanakan di dalam hutan. Di Indonesia kebanyakan hutan yang ada adalah hutan hujan tropis yang dalam bahasa Inggris disebut tropical rainforest. Sebagai sebuah lingkungan alam yang kompleks, hutan tropis merupakan habitat alami bagi berbagai jenis binatang seperti mamalia, burung, reptil, amfibi dan serangga. Pohon-pohon yang dapat kita lihat di hutan hujan tropis lebih beragam dan ada yang memiliki diameter lebih besar dari satu meter. Wisata hutan yang saya promosikan dalam artikel ini bertujuan untuk menyediakan skema pariwisata alternatif bagi para wisatawan petualang dan pada saat yang sama mempromosikan konservasi lingkungan hidup yang berharga tersebut.

Wisata Alam di Sungai Dopi


Pemandangan alam yang indah di Sungai Dopi merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing. Sudah beberapa kali saya ke sana bersama-sama dengan turis Belanda, Amerika Serikat, Belgia dan Inggris. Kami berjalan kaki dari daerah pinggiran kota Manokwari selama dua jam untuk mencapai sungai itu. Ada sebuah tenda sederhana yang telah dibangun oleh para pemburu khusus untuk wisatawan yang mau menginap di hutan selama beberapa hari. Hutan hujan tropis yang tumbuh di kedua sisi Sungai Dopi memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi sekali. Ada beberapa spesies burung yang suka diamati oleh wisatawan, di antaranya adalah kakaktua, taun-taun dan burung cendrawasih/ burung surga. Spesies Cendrawasih yang paling sering dilihat di sana adalah Paradisaea minor. Warna bulunya adalah kombinasi coklat, hijau, kuning, dan putih. Dalam pengembangan program ekowisata di Kabupaten Manokwari ini, sengaja saya libatkan para pemburu untuk memberikan alternatif pekerjaan kepada mereka agar burung-burung surga dan satwa liar yang dilindungi tersebut tidak diburu lagi. 

Saturday, November 10, 2012

Mengagumi Goresan Pastel Hofker di Neka Art Museum

Ubud kota Seni
Wisata seni dan budaya adalah andalan kota Ubud. Senang sekali saya berada di sana karena hobi saya adalah menggambar dan melukis. Selama jalan-jalan keliling Bali, lebih lama waktu saya habiskan di galeri dan museum lukisan yang ada di kota itu. Salah satu yang saya kunjungi adalah Neka Art Museum yang terletak di Jalan Raya Campuhan. Di sini, saya menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam. Di antara semua seniman yang karyanya saya amati, ada satu yang benar-benar menarik perhatian saya. Dia adalah Willem Gerard Hofker. Seorang pelukis Belanda yang tinggal lama di Bali sebelum Perang Dunia II. Perhatian saya yang demikian besar pada karya-karya pastel Hofker mungkin disebabkan oleh hobi saya yang juga adalah menggambar. Kalau Hofker menggunakan media pastel maka saya memakai pensil warna cat air dari Derwent. 

Eat Pay Leave Ubud


Ada banyak cafe dan restoran di jalan-jalan Ubud. Menu yang ditawarkan sangat beragam mulai dari makanan khas Bali hingga steak ala Amerika atau juga Chinese food. Di musim liburan akhir tahun seperti sekarang ini, setiap kali jam makan tiba, rumah-rumah makan itu dipenuhi wisatawan. 
Di suatu siang, setelah menghabiskan waktu lima jam melihat lukisan dan keris di Neka Art Museum, saya merasa lapar sekali. Maklum saja saya ini orangnya suka sama seni. Oleh karena itu pagi-pagi sekali saya sudah berada di Museum Neka. Tentu tempat yang saya cari adalah rumah makan. Untung saja di depan Neka Art Museum ada sebuah rumah makan yang kelihatannya menyajikan menu yang lezat-lezat.

Friday, November 9, 2012

Wisata Bahari di Kaimana


oleh Charles Roring
Selama ini kota Kaimana lebih dikenal di Indonesia lewat lagu Alfian yang berjudul, Senja di Kaimana. Tetapi sebenarnya kabupaten ini memiliki sejumlah tempat yang patut dikunjungi oleh para pelancong yang suka dengan pemandangan alam. 
Pantai-pantai dan pulau-pulau sunyi
Teluk Triton, Selat Iris, Pulau Namatote; Aiduma; Dramai; Adi; Nusurumi; Mauwara; Semisarom; dan Venue memiliki keindahan yang luar biasa dan bisa disejajarkan dengan berbagai destinasi wisata bahari di belahan dunia lainnya. Banyak pulau dan pantai-pantai berpasir putih di Kaimana yang tidak didiami orang. Selama berada di sana, yang terdengar hanyalah deburan ombak, kicauan burung dan suara daun ditiup angin.

Bersepeda di Bali

Petani sedang membajak sawah
Selama tiga bulan berada di Bali, saya sering berkeliling Ubud dengan mengendarai sepeda di sore hari. Saya naik sepeda gunung buatan Wim Cycle dan bukannya sepeda motor. Kalau di Papua, saya biasa menggunakan Polygon Dirt Jump DX 2.0. Sawah, pura dan pemukiman penduduk di daerah pinggiran kota seni tersebut sangat menarik dijelajahi sambil mengayuh sepeda. Ternyata bukan hanya saya saja yang suka keliling-keliling dengan sepeda gunung tetapi banyak juga wisatawan asing melakukan hal serupa. Bahkan ada dari mereka yang berkeliling pulau Bali selama beberapa hari dengan kendaraan roda dua bertenaga manusia ini. 
Jalur tanjakan di jalan Suweta menjadi lokasi terdekat pertama yang saya kunjungi. Pemandangan para petani yang bekerja membajak sawah-sawah terasering menjadi lukisan alam yang enak dipandang mata. Saya selalu membawa kamera travel ke mana-mana untuk memotret berbagai hal menarik yang saya jumpai di jalan. Oleh karena itu, saya tidak lupa mengambil beberapa gambar petani dan sawahnya tersebut. Setelah lelah mengayuh sepeda akhirnya saya sampai di tikungan yang mengarah ke Jalan Sriwedari.

Thursday, November 8, 2012

Hiking di Hutan Asai Manokwari

Mendengar kata hutan mungkin sebagian dari Anda akan membayangkan bahwa tempat itu cukup berbahaya karena bisa jadi ada binatang buasnya. Bayangan seperti itu ada benarnya juga tetapi di hutan Papua tidak ada binatang buas seperti singa atau harimau. Memang ada ular berbisa dan babi hutan serta burung kasuari tetapi mereka tidak agresif terhadap manusia. Sebagai seorang pemandu wisatawan, saya sering mengantar tamu-tamu asing yang datang dari berbagai negara untuk kegiatan hiking di hutan hujan tropis Papua. Hiking adalah kegiatan berjalan kaki. Terkadang istilah ini dipakai secara bergantian dengan kata trekking dan backpacking. Selama melakukan perjalanan di hutan, ada banyak hal menarik yang bisa dilihat seperti bunga, kupu-kupu, burung dan jamur. Ada 4 daerah tujuan wisata hiking di Manokwari yang saat ini saya promosikan. Salah satunya adalah Asai.

Wednesday, November 7, 2012

Mendaki Gunung Arfak Melihat Burung Surga

oleh Charles Roring
Hari masih gelap ketika saya, Simon, dan Sofie (dua orang wisatawan Inggris dan Belgia) meninggalkan Swiss Belhotel menuju kampung Warmarway di daerah pesisir Pegunungan Arfak. Jam menunjukkan 04.30 subuh. Jalanan nampak sepi. Tak ada kendaraan yang lalu lalang. Maklum kota Manokwari tidaklah sebesar Jakarta, Surabaya ataupun Denpasar. Suzuki carry sewaan membawa kami melaju menembus dinginnya pagi. Simon dan Sofie nampak masih mengantuk. Karena perjalanan ke sana membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit, saya mempersilahkan mereka untuk tidur.

Jalan-jalan ke Desa Tincep sentra penjualan bunga di Minahasa

Setelah banyak bercerita tentang liburan murah di Raja Ampat, Numfor dan Manokwari yang sebagian besarnya di Papua, kini saya akan bercerita sedikit tentang perjalanan saya di Sulawesi Utara. Kali ini, saya tidak akan bercerita tentang Bunaken melainkan tentang Tincep.
Tincep, kampung bunga
Mungkin nama itu baru atau terasa asing di telinga Anda. Tincep adalah sebuah desa kecil di Kabupaten Minahasa. Desa ini terkenal dengan pasar bunganya. Di sepanjang jalan dan lorong-lorong di kampung itu, berwarna-warni bunga dipajang penduduk di halaman rumah mereka. Sudah sejak lama Tincep dikenal di Provinsi Sulawesi Utara sebagai sentra penjualan bunga di samping kota Tomohon. Hamparan sawah hijau baik yang datar maupun yang berbentuk terasering menghiasi pandangan mata sepanjang perjalanan sesaat sebelum memasuki kampung Tincep.

Tuesday, November 6, 2012

Jalan-jalan di Pulau Numfor

Perjalanan ke Pulau Numfor dan Pulau Manim

Pulau Manim adalah sebuah pulau kecil di kawasan Teluk Cendrawasih Papua yang masuk dalam administrasi Kabupaten Biak-Numfor. Pulau ini berdekatan dengan Pulau Numfor yang di tahun 1944 menjadi medan pertempuran yang dahsyat antara tentara Amerika Serikat dan Jepang. Terumbu karang (coral reef) yang masih dalam kondisi bagus bisa dilihat di perairan sebelah tenggara Pulau Manim yang berhadapan dengan Pulau Numfor. Ikan dan koral lunak maupun keras yang berwarna-warni menyajikan pemandangan bawah laut yang cukup memukau saat kami snorkeling di sana. Tahun lalu, saya menemani dua orang Finlandia, Marko dan Rita, untuk jalan-jalan di Pulau Numfor dan Pulau Manim selama beberapa hari.

Sunday, November 4, 2012

Liburan Murah Meriah di Raja Ampat

Banyak orang yang ingin sekali pergi ke Raja Ampat - kawasan wisata bahari yang terpopuler di Indonesia. Tapi saat mereka melihat betapa besar biaya yang harus dihabiskan untuk ke sana maka kebanyakan calon pelancong tersebut mengurungkan niat liburan mereka. Bila kita melihat berbagai paket tur yang ditawarkan oleh sejumlah agen perjalanan wisata di internet maka harga yang ditawarkan tergolong mahal. Mulai dari 7 juta hingga 30 juta/orang/minggu. Harga tur begitu tinggi disebabkan oleh mahalnya biaya transportasi. Oleh karena itu, masih sedikit sekali wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Kepulauan Raja Ampat. Raja Ampat pertama kali dipopulerkan oleh para pencinta olah raga selam dari luar negeri yang kebanyakan memilih naik kapal-kapal liveaboard.