Tuesday, February 26, 2013

Selancar Air di Manokwari

Selancar adalah olah raga air yang sangat menantang. Selain memerlukan ketrampilan dan keseimbangan khusus untuk berdiri di atas papan luncur, peselancar harus berani menghadapi ombak yang besar. Hal ini sangat tidak bisa dilakukan oleh siapa saja. Untuk menjadi peselancar yang mahir, seseorang harus berlatih selama berjam-jam. 
Di Manokwari - ibukota Provinsi Papua Barat, anak-anak Papua yang tinggal di Pantai Abasi sudah terbiasa berenang di laut dengan ombak yang tinggi. Banyak di antaranya yang memanfaatkan papan kayu untuk berselancar. Pada suatu hari, kegiatan mereka untuk berselancar dengan papan yang sederhana tersebut menarik perhatian wisatawan asing yang suka dengan selancar air. Sejak saat itu, satu atau dua orang di antaranya mendapat bantuan papan selancar standar yang terbuat dari foam dan fiberglass.

Tuesday, February 19, 2013

Pedati di Minahasa

Anak-anak dan pedati di Minahasa - foto oleh Charles Roring
Pedati adalah alat transportasi tradisional yang saya lihat sewaktu berkunjung ke Minahasa. Pedati umumnya ditarik oleh sapi atau kerbau dan digunakan untuk mengangkut hasil-hasil pertanian serta bahan bangunan. Karena pedati tidak menggunakan bahan bakar fosil, kendaraan ini masuk dalam kategori kendaraan "hijau." Namun demikian, sapi yang menarik pedati harus makan rumput segar agar memiliki energi untuk menarik beban. Pada zaman modern ini, jumlah pedati semakin berkurang karena digantikan oleh truk pick-up yang cepat dan kapasitas muatnya lebih banyak.

Dodol Penganan Lezat dari Minahasa

Dodol Minahasa terbungkus daun woka - foto oleh Charles Roring
Saya suka sekali dengan kelezatan dodol. Penganan tradisional nusantara ini dibuat juga oleh orang-orang Minahasa. Dodol dibuat dari bahan-bahan alami seperti beras ketan, santan serta gula merah. Senang sekali merasakan manisnya dodol yang mencair di lidah ketika saya mengunyahnya. Saya ingat sewaktu hendak naik kapal di Pelabuhan Bitung, para penjual makanan suka menjajakan dodol kepada para penumpang kapal yang hendak berlayar. Dulu sebagai mahasiswa, saya tidak punya banyak uang untuk bepergian. Oleh karena itu, transportasi laut adalah satu-satunya pilihan untuk berkelana ke Papua, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur maupun Jawa dan Kalimantan. Saya membeli dodol sebagai oleh-oleh buat teman-teman kos ketika saya sudah kembali. Mereka sangat suka dengan dodol Minahasa yang dibungkus dengan daun woka.

Melihat Daerah Pertanian di Minahasa

Dataran tinggi Minahasa dilihat dari Bukit Kasih  - foto oleh Charles Roring
Dataran tinggi Minahasa merupakan kawasan pertanian yang subur. Meskipun dewasa ini sektor pariwisata di Sulawesi Utara memberikan kontribusi yang signifikan bagi Pendapatan Asli Daerah, sektor pertanian tetap memegang peranan yang penting sekali dalam penyediaan lapangan kerja. 
Selama berkunjung ke sana, saya menghabiskan banyak waktu untuk melihat kebun-kebun rakyat yang ditanami berbagai jenis komoditas pertanian. Luas dataran Minahasa tergolong kecil dibandingkan Papua ataupun Kalimantan, tapi penduduk di daerah ini bisa dibilang ulet dalam mengolah lahan pertanian mereka. Sayur seperti wortel, kol, kacang merah dan buncis kerap diekspor ke kedua pulau besar tersebut untuk mengisi kekurangan pasokan sayur di pasar-pasar tradisionalnya. Hal ini bisa dilihat ketika saya melakukan perjalanan dari Sonder ke Rambunan.  Di kedua sisi jalan, saya melihat kebun pepaya, vanili dan areal persawahan.

Monday, February 18, 2013

Melancong ke Madura

Tahun lalu saya sempat singgah sebentar di Pulau Madura, di antar oleh saudara sepupu. Cuaca siang itu cukup panas dan sedikit berangin. Mobil melaju di atas Jembatan Suramadu yang berdiri kokoh menghubungkan kota Surabaya dan "Pulau Garam ini." Sesampainya di sebelah, nampak petak-petak sawah yang telah menguning padinya dan siap di panen. Para petani sedang menyabit padi mereka. Setelah itu padinya dirontokkan. Kemudian para ibu memasukkannya ke dalam karung untuk siap dipikul pulang. Wanita-wanita Madura sungguh hebat. Mereka adalah pekerja keras dan saya sungguh kagum pada mereka. Masih ada orang-orangan sawah dan potongan kain atau plastik yang diikat dengan tali di tengah sawah. Fungsinya adalah untuk mengusir burung. Di beberapa bagian tertentu dari hamparan sawah tersebut, berdirilah menara-menara besi yang dihubungkan dengan kabel listrik tegangan tinggi.

Sunday, February 17, 2013

Berwisata di Hutan Gunung Meja Manokwari

Burung Taun-taun di Gunung Meja Manokwari - photo oleh Rhett Butler
Gunung Meja adalah sebuah kawasan hutan yang terletak di tengah-tengah kota Manokwari. Saat ini Gunung Meja berstatus sebagai Taman Wisata Alam. Hutan ini bisa dijelajahi selama satu hari penuh. Sudah banyak wisatawan yang berkunjung ke sana untuk melihat burung, bunga, serangga, tanaman dan pepohonan serta melihat gua alam yang nampak menyeramkan.
Hari ini saya menemani dua orang wisatawan Indonesia yang berasal dari Surabaya mengunjungi Pulau Mansinam dan Gunung Meja. Karena waktu telah menunjukkan pukul 4 saat kami memasuki kawasan hutan tersebut maka kami hanya bisa melakukan kegiatan hiking menelusuri jalan beraspal yang menembus Gunung Meja dari Ayambori sampai Amban (lokasi kampus Universitas Papua). Kami sempat pula singgah sebentar di Tugu Jepang. Wisatawan dalam negeri asal Surabaya tersebut nampak kaget saat melihat luwing yang berukuran besar dengan panjang badan sekitar 10 cm. Perjalanan sore itu kami lakukan dengan agak tergesa-gesa karena hujan turun deras sekali.

Friday, February 15, 2013

Hamparan Sawah di Seram Timur

Pelabuhan Sesar Bula di Kabupaten Seram Timur - Maluku
KM Sabuk Nusantara 32 yang saya tumpangi semalam menyusuri Selat Sele. Pagi harinya kapal ini singgah di Harapan Jaya Kepulauan Misool. Setelah itu kapal ini berlayar lagi menyeberangi laut Seram dan akhirnya tiba di Bula pada sore hari. Laut di sekitar Pelabuhan Bula nampak tenang. Padahal diluar perairan itu, ombak yang ditiup oleh angin tenggara tingginya mencapai beberapa meter. Karena pertimbangan keselamatan pelayaran maka, nakhoda memutuskan bahwa kapal tidak jadi melanjutkan perjalanan ke Geser, Gorom dan Fakfak. Oleh karena itu para penumpang yang ada di atas kapal terpaksa harus mencari alternatif lain. Sebelumnya, saya agak kecewa karena ingin sekali melihat Geser, Gorom serta Kesui yang katanya indah sekali pemandangannya. Apa boleh buat, perjalanan darat harus saya tempuh menembus Pulau Seram  untuk kemudian tiba di Pulau Ambon.

Thursday, February 14, 2013

Panorama Gunung Botak Yang Memukau

Oma Gertraud bersama dua tukang ojek di Gunung Botak
Seorang Oma dari Jerman yang bernama Gertraud mengirim e-mail dan meminta saya mengantarnya melihat beberapa kampung di sekitar Manokwari sehingga dia bisa bertemu penduduk asli Papua. Sewaktu masih sekolah dulu, Oma Gertraud sering diceritakan oleh gurunya tentang pemandangan Papua yang indah sekali dan keramahan penduduknya. Gurunya Oma Gertraud itu pernah tinggal lama di Papua. Sayang sekali saya lupa menanyakan nama dari guru itu.
Ketika tiba di Manokwari, saya pun mengantar Oma Gertraud ke Ransiki. Kami naik kendaraan umum yang mengantar kami melewati kawasan pesisir sebelah timur Pegunungan Arfak. Di sebelah kiri kami adalah tebing-tebing yang curam dengan pemandangan lautan biru yang menakjubkan. Sementara itu di kanan adalah Pegunungan Arfak yang terjal dan gagah perkasa, tempat burung-burung surga berdansa di dahan-dahan pohon di pagi hari.
Setelah tiba di kota Ransiki, saya segera mencari 2 tukang ojek yang bersedia membawa kami ke Gunung Botak. Masing-masingnya meminta 100 ribu rupiah. Kendaraan yang akan kami tumpangi ke sana adalah satu buah sepeda motor merek Honda Revo dan sepeda motor 2 tak merek Yamaha. Sebelum berangkat, kami singgah sebentar di sebuah warung yang menjual bensin. Tak lama kemudian, perjalanan ke Gunung Botak dimulai. Kami melewati Distrik Momi Waren dengan kampung-kampungnya yang berjejer di kedua sisi jalan. Sesekali kami melihat anak-anak Papua yang bermain di halaman rumah. Ada yang melambaikan tangan mereka kepada kami. 
Panorama Gunung Botak yang indah Sekali
Dari penuturan seorang tua bapak Jan Manusawai di Manokwari, bahwa sebelum  masa Perang Pasifik, daerah ini dikuasai oleh para petani Jepang. Mereka menanam tanaman jute yang memiliki serat yang panjang dan kuat. Tiba-tiba saja sebelum Perang Pasifik pecah, mereka pulang ke negaranya. Kini tanaman serat jute yang berguna dan memiliki nilai ekonomis pembuatan tali maupun industri kertas terbengkalai begitu saja di sana.
Dua sepeda motor yang dikendarai oleh dua tukang ojek Papua ini melaju menyusuri jalan beraspal yang berlobang-lobang. Anak-anak muda ini lincah sekali. Sayang sekali, ketika hampir sampai di Gunung Botak, salah satu motor tiba-tiba mogok. Setelah memeriksa isi tangkinya, ternyata bahan bakarnya sudah habis. Maklum motor dua tak meskipun dapat berlari kencang, ternyata sangat boros bahan bakar. Salah satu kawannya, kembali ke kampung terdekat untuk membeli bahan bakar. Hari sudah sore ketika dia kembali dan kami pun bisa melanjutkan perjalanan ke Gunung Botak. Mengapa disebut Gunung Botak? Seperti yang tampak pada foto-foto di artikel ini, sebagian besar permukaannya tidak ditumbuhi pepohonan.

Wednesday, February 13, 2013

Naik Sepeda Motor Keliling Kaimana

Kaimana adalah sebuah kota kecil di Pantai Selatan Papua. Kota ini terkenal dengan sebutan kota senja. Memanjang dari Barat ke Tenggara, Kaimana bisa dijelajahi dalam waktu satu hari penuh. Cara termurah untuk melihat pemandangan Kota Kaimana yang terdiri dari pantai yang dikepung gunung batu adalah dengan naik sepeda motor. Sewaktu berada di sana, saya bepergian dengan sepeda motor Honda Supra X yang hemat bahan bakar, kami menjelajahi wilayah pinggiran kota Kaimana hingga ke Kilometer 14. Sepeda motor tetap stabil melesat di jalan sempit bergunung hingga saya tiba di sebuah jembatan yang airnya berwarna biru kehijauan (turquoise). Saya berhenti agak lama di sini. Berjalan menelusuri jembatan kayu yang beberapa papannya telah rapuh menuntut kehati-hatian ekstra. 
Pemandangan Sungai dan hutan di Kilometer 14, Kaimana, Papua Barat
Keindahan alam hutan hujan tropis dan sungai di Kilometr 14 membuat saya terdiam lama mengaguminya. Terus terang saja, saya sungguh jatuh cinta pada kota ini. Diam-diam dalam hati, saya berkata bahwa kalau sampai saya punya cukup uang maka saya akan pindah di kota ini.

Liburan Murah ke Raja Ampat

Pemandangan Kepulauan Misool di Raja Ampat dari atas kapal
foto oleh Charles Roring
Semua orang yang pernah melihat keindahan alam Raja Ampat lewat layar televisi atau foto-foto yang ditayangkan di internet pasti ingin sekali ke sana. Memang Raja Ampat saat ini menduduki posisi terpopuler sebagai destinasi wisata bahari di Indonesia. Sayangnya, setelah melihat sejumlah paket wisata yang ditawarkan di internet, banyak sekali calon pelancong yang mengatakan bahwa harganya mahal sekali. 
Sebenarnya harga yang mahal tersebut bisa dihindari jika Anda berani berpetualang di Papua Barat. Untuk menekan biaya, pergilah ke Sorong dengan naik kapal PELNI. Anda bisa memilih kelas ekonomi, atau kelas 3 wisata. Setelah sampai di kota Sorong, perjalanan selanjutnya ke kota Waisai dapat dilakukan dengan naik kapal cepat. Harga tiketnya sekitar Rp. 120.000. Kalau Anda ingin pergi ke Kepulauan Misool, silahkan cari kapal yang tujuannya ke daerah itu di Pelabuhan Rakyat kota Sorong.