Mendaki Gunung Arfak Melihat Burung Surga

Wednesday, November 7, 20120 comments

oleh Charles Roring
Hari masih gelap ketika saya, Simon, dan Sofie (dua orang wisatawan Inggris dan Belgia) meninggalkan Swiss Belhotel menuju kampung Warmarway di daerah pesisir Pegunungan Arfak. Jam menunjukkan 04.30 subuh. Jalanan nampak sepi. Tak ada kendaraan yang lalu lalang. Maklum kota Manokwari tidaklah sebesar Jakarta, Surabaya ataupun Denpasar. Suzuki carry sewaan membawa kami melaju menembus dinginnya pagi. Simon dan Sofie nampak masih mengantuk. Karena perjalanan ke sana membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit, saya mempersilahkan mereka untuk tidur.

Tinggal saya dan supir yang tetap terjaga. Supir yang membawa kami pagi itu bernama Pak Sugi. Kami akhirnya bercerita panjang lebar tentang kehidupan di Papua. Mulai dari gampang-susahnya cari duit sampai ke pengalaman saya mengantar orang-orang bule untuk tidur selama beberapa hari di hutan. Nampaknya Pak Sugi ingin mengetahui lebih banyak tentang apa yang saya dan para wisatawan asing biasanya lakukan di hutan hujan tropis Papua. Saya pun bercerita tentang kegiatan hiking, camping dan birdwatching di Papua. Pak Sugi mendengarnya sambil tetap berkonsentrasi pada jalan raya dan kendaraan yang ia kemudikan. Maklum penumpangnya ada lah orang bule. Jangan sampai terjadi kecelakaan. 
Setelah beberapa kali menanjaki dan menuruni bukit, kami akhirnya tiba di kampung Warmarway. Di sana Oom Yunus Sayori telah menunggu di tepi jalan. Ia yang akan memandu kami mendaki Gunung Arfak untuk menuju suatu tempat rahasia di mana burung-burung surga biasa berdansa di dahan-dahan pohon pada pagi hari. Memang tempat itu kami rahasiakan agar para pemburu tidak bisa ke sana untuk menembak mereka. Hari sudah mulai terang. Nampak jelas matahari yang berbentuk bulat keemasan muncul dari permukaan laut Teluk Cendrawasih di sebelah timur. 
Pegunungan Arfak adalah destinasi pengamatan burung Cendrawasih yang terpopuler di dunia. Letaknya di sebelah selatan kota Manokwari - ibukota Provinsi Papua Barat.
Dalam bahasa Inggris burung ini dikenal dengan sebutan birds of paradise atau burung surga. Di Papua istilah burung surga kurang dikenal. Masyarakat lebih mengenalnya dengan nama burung Cendrawasih atau burung kuning. Hanya saja ejaan dan pengucapannya kadang berubah menjadi burung "Cenderwasih." Ada puluhan spesies burung surga. Kali ini yang akan kami tonton adalah lesser birds of paradise (paradisaea minor).
Setelah menurunkan kami di titik start pendakian, Pak Sugi kembali ke Manokwari. Saya, Sofie, Simon dan Oom Yunus kemudian melanjutkan perjalanan kami menyusuri lereng-lereng Pegunungan Arfak yang terjal. Waktu yang kami tempuh adalah kurang lebih 1 jam 30 menit. Jalur pendakian yang sangat terjal itu membuat kami tersengal-sengal. Namun kami tidak bisa beristirahat di tengah jalan setapak terlalu lama karena burung-burung Cendrawasih itu hanya berdansa hingga sekitar jam 9. Kami harus menyebrangi kali kecil dua kali dan kemudian mendaki lagi daerah pegunungan yang kemiringannya mencapai 70-80 derajat. Untung saja Oom Yunus telah membuat tangga dan tempat pegangan yang terbuat dari bambu yang telah diikat ke akar dan batang pohon menggunakan tali hutan. 
Saat kami sampai di tempat pengamatan burung, ternyata burung-burung Cendrawasih jantan telah berdansa. Mereka memamerkan bulu-bulu kuning, putih dan coklat kepada para betina sebagai upaya untuk memikat mereka. 
Begitu melihat burung-burung surga itu berdansa di sela-sela dahan pohon, Sofie dan Simon menunjukkan rasa kegembiraan mereka. Mereka tidak lagi bersungut-sungut tentang terjal dan lamanya jalur pendakian. Kini mereka lebih sibuk memegang kamera untuk memotret burung-burung itu. Kami menghabiskan waktu selama dua jam mengamati burung berdansa. Bukan hanya burung Cendrawasih kuning saja yang bisa dilihat di Pegunungan Arfak. Ada juga burung-burung lainnya seperti cendrawasih raja (king birds of paradise), cendrawasih biru (blue birds of paradise), taun-taun, kakaktua dan elang serta beberapa spesies kingfisher. 
Setelah selesai mengamati burung, kami turun ke kali untuk beristirahat dan menikmati makan siang. Menunya sangat sederhana yakni Indomie rebus rasa soto dan teh panas dari Sariwangi. Kira-kira jam 1 siang hujan turun dengan derasnya dan kami pun harus berteduh di kemah turis selama 2 jam. Perjalanan sore itu kami akhiri setelah menonton Oom Yunus mempertunjukkan penggunaan korek api tradisional Papua yang terbuat dari bambu, sabut palem dan batu.
Jika Anda berminat mendaki Pegunungan Arfak, atau melakukan pengamatan burung, silahkan menghubungi saya  (Charles Roring) lewat hp 081332245180
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Jelajah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger